Jenis-Jenis Pidato dan Metode Pidato - Makalah Retorika

Jenis-Jenis Pidato dan Metode Pidato -  Makalah Retorika
Jenis-Jenis Pidato dan Metode Pidato -  Makalah Retorika

Jenis-Jenis Pidato dan Metode Pidato -  Makalah Retorika. Makalah di bawah bisa kalian jadikan sebagai referensi dalam pembuatan makalah dan tugas kuliah mata kuliah Retorika. Makalah terdiri dari pendahuluan ( latar belakang ) , pembahasan dan penutup serta daftar pustaka. 


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

     Komunikasi dibagi berdasarkan arahnya. Komunikasi satu arah, dua arah dan banyak arah. Komunikasi satu arah dilakukan oleh satu orang (pembicara) dan pendengar hanya mendengar saja. Contohnya adalah pidato, penyiar televisi, penyiar radio. Komunikasi dua arah adalah hubungan yang terjadi antara pembicara dengan pendengar dan terjadi umpan balik antara keduanya. Contohnya komunikasi guru dan siswa. Komunikasi melalui telepon, berbicara secara langsung dan wawancara. Komunikasi banyak arah adalah komunikasi yang terjadi antara pembicara dengan pendengar yang memiliki hubungan timbal balik antara kedua pihak dan pihak ketiga yang ada di dalam forum tersebut. Komunikasi ini membahas topik untuk diselesaikan bersama. Dalam komunikasi ini akan banyak ide yang muncul dan akan ditarik suatu kesimpulan sebagai hasil. Contoh kegiatan ini adalah diskusi.

      Salah satu kegiatan yang sering dilakukan dan dekat dengan kehidupan sehari-hari adalah komunikasi berbentuk pidato. Pidato adalah suatu kegiatan untuk menyampaikan maksud di depan khalayak ramai. Komunikasi dalam proses berpidato lebih bersifat satu arah. Artinya hanya didominasi oleh satu orang saja yaitu pembicara. Kegiatan berpidato juga merupakan salah satu materi dalam kegiatan belajar mengajar tingkat dasar sampai pada perguruan tinggi. Kegiatan berpidato dianggap penting karena menyangkut kehidupan sehari-hari yang orientasinya pada materi ini.

           Berpidato di lingkungan perguruan tinggi merupakan keterampilan berbicara yang harus dikuasai oleh mahasiswa. Keterampilan berbicara dapat dilatih dengan cara berpidato di depan publik. Pada perguruan tinggi kegiatan ini masuk pada mata kuliah “Retorika”. Matakuliah retorika adalah matakuliah yang turun di semester ganjil tepatnya di semester III. Tujuan dari matakuliah ini adalah mahasiswa mampu untuk berpidato di depan publik dengan sistematika yang baik dan benar. Untuk mencapai tujuan tersebut banyak usaha yang dilakukan salah satunya adalah menyediakan sanggar yang di dalamnya ada kegiatan menulis kreatif seperti menulis pidato dan melatih keterampilan berbicara seperti menyampaikan pidato


BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Pidato

        Pidato menurut Somad dan Indriani adalah “ Berbicara di hadapan orang banyak dalam rangka menyampaikan suatu masalah untuk mencapai tujuan tertentu.” Sedangkan menurut Supriyatmoko Public speaking disebut juga sebagai pidato. Pidato adalah seni penyampaian percakapan yang didukung dengan penggunaan bahasa yang baik dan benar.

      Demikian juga yang disampaikan oleh Suhandang menyatakan, retorika merupakan seni dan kepandaian berbicara dan berkata-kata atau berpidato dengan menggunakan segala teknik dan taktik berkomunikasi. Berdasarkan pengertian para pakar dapat dipahami bahwa berpidato adalah suatu seni berkomunikasi di hadapan orang banyak dengang menggunakan teknik dan taktik serta bahasa yang baik dan benar. Pidato juga dapat disebut dengan public speaking.

        Pidato akan baik, jika disampaikan dan dituliskan menggunkana struktur yang sistematis sesuai dengan ketentuan. Kesistematisan itu merupakan salah satu bentuk keindahan dari pidato sehingga memunculkan makna yang mudah dimengerti. Oleh karena itu sebelum menyampaikan atau menulis naskah pidato terlebih dahulu mengetahui tujuan dari pidato tersebut. Menurut Supriyatmoko (2010), “Secara umum tujuan orang berpidato adalah sebagai berikut : 
  1. Memberikan informasi, yaitu memberikan pegetahuan tentang sesuatu hal.
  2. Ajakan, yaitu berusaha untuk meyakinkan dan mengajak audience untuk melakukan sesuati hal.
  3. Mendidik, yaitu merupakan usaha untuk meningkatkan pengetahuan orang lain dalam kaitannya,dengan pendidikan, misalnya tentang pentingnya hidup hemat, keehatan, toleransi, dan lain-lain.
  4. Menghibur, bertujuan untuk memberikan hiburan pada orang lain.
    Maka tujuan berpidato adalah untuk memberikan informasi dan pemahaman suatu topik, mempengaruhi pendengar atas suatu pendapat, memberikan informasi kepada khalayak, dan menghibur pendengar. Tujuan berpidato harus menyesuaikan dengan jenis pidato. Menurut Rakhmad (2010:17) berdasarkan ada tidaknya persiapan yang dilakukan dalam berpidato, maka jenis-jenis pidato dapat dibedakan atas impromtu, manuskrip, memoriter, dan ekstempore.

B. Jenis Jenis Pidato

        Pidato sebagai bentuk penyampaikan ide dan gagasan kepada orang banyak memiliki banyak jenisnya. Devito (2015) dan Pen dalam Learning express (2010) menjelaskan bahwa ada lima jenis pidato yaitu :
  1. Pidato Informatif
  2. Pidato informatif adalah pidato yang menginformasikan hal-hal baru kepada pendengar. Pidato jenis ini tentu harus kaya dengan informasi yang terbaru sehingga pendengar merasakan manfaat setelah mendengarkan pidato tersebut. Informasi tersebut bisa saja tentang peristiwa yang terjadi di sekitar pendengar, namun luput dari pengamatan mereka. Kejelian dan kecermatan orator dalam menangkap informasi merupakan kekuatan dan modal yang harus dimiliki oleh ahli pidato jenis ini. Contoh pidato informatif adalah perkuliahan di kampus dimana seorang dosen menyampaikan materi di hadapan mahasiswanya atau seorang guru di depan kelasnya. Pada dasarnya, pidato jenis ini hanya memberikan penjelasan-penjelasan awal dan selanjutnya tergantung kepada hadirin untuk bersikap. Pidato informatif kadang bisa menjadi pidato yang membosankan.
  3. Pidato Deskriptif
  4. Pidato deskriptif adalah pidato yang menjelaskan sesuatu seperti orang, suatu peristiwa/kejadian, suatu proses dan sebagainya. Pidato ini mendeskripsikan ciri-ciri suatu objek. Orator yang menyampaikan jenis pidato ini harus memiliki data dan fakta yang lengkap serta akurat agar informasi yang disampaikan bisa diterima sebagai sebuah kebenaran.
  5. Pidato Demonstratif
  6. Pidato demonstratif adalah kelanjutan dari pidato informatif. Jika pidato informative lebih banyak bermain pada “What, Where, Who dan When serta Why” maka pidato demonstratif bermain pada ranah “how”. Oleh sebab itu, pada pidato ini, orator lebih fokus pada penyampaikan cara-cara untuk melakukan sesuatu. Pidato ini harus didukung media dan sumber. Contoh ketika seorang guru menjelaskan tentang gerak semu matahari maka guru tersebut harus menggunakan media globe dan senter sebagai sumber cahaya.
  7. Pidato Persuasif
  8. Pidato persuasif masih berkaitan dengan pidato informatif. Hanya saja pidato persuasif lebih mengedepankan ide dan gagasan pembicara tentang suatu informasi dan mengarahkan atau membujuk hadirin untuk menerima ide tersebut. Pidato persuasive termasuk pidato yang sulit karena tujuannya adalah untuk menyakinkan orang lain. Pidato persuasif juga mempengaruhi aspek-aspek psikologis pada diri seseorang seperti  sikap, nilai-nilai dan kepercayaan. Aristoteles seorang Filsuf Yunani berpendapat bahwa untuk menyampaikan pidato persuasive, seseorang harus memiliki tiga syarat yaitu:
    a. Ethos. Ethos mencakup kredibilitas, citra diri, reputasi public dan keahlian. “a persuasive speaker must be a credible speaker and practice what you talk”.
    b. Logos. Logos berkaitan dengan kata-kata, konsep dan logika.
    c. Pathos. Pathos berhubungan dengan emosi dan perasaan.
  9. Pidato Acara Khusus
  10. Pidato acara khusus atau disebut juga dengan “special occasion speech” adalah pidato yang disampaikan pada kesempatan-kesempatan khusus seperti pidato memperkenalkan seseorang, pidato pada saat acara pernikahan, pidato pada acara perpisahan, pidato pada saat menerima sebuah penghargaan dan sejenisnya. Yang termasuk ke dalam jenis pidato acara khusus diantaranya adalah:
    a. Pidato pengantar (Speech of introduction).
    b. Pidato presentasi atau penerimaan (speech of presentation or acceptance).
    c. Pidato niat baik (Speech of Goodwill).
    d. Pidato dedikasi (Speech of dedication).
    e. Pidato Commencement.
    f. Pidato Inspirasi (The Inspirational Speech).
    g. Pidato Eulogy.
    h. Pidato perpisahan (farewell speech).
    i. Pidato The Toast.
C. Metode Pidato

     Berdasarkan ada tidaknya persiapan dalam menyampaikan pidato, Jalaludin Rahmat (1999) membagi pidato ke dalam empat metode, yaitu :
  1. Impromtu
  2. Pidato dengan metode ini adalah pidato yang dilakukan tanpa persiapan atau dilakukan tiba-tiba. Hal ini terjadi karena suatu kondisi atau keadaan. Seperti seseorang datang ke acara reuni. Lalu, tiba-tiba dia diminta untuk menyampaikan pidato. Disebut juga dengan pidato spontan.
  3. Manuskrip
  4. Pidato manuskrip adalah pidato dengan membaca naskah atau “full text speech”. Pidato dengan metode ini seperti pidato kenegaraan, pidato dalam acara-acara resmi. Intinya, pidato yang tidak boleh ada kesalahan dalam penyampaiannya baik kata maupu cara menyampaikannya. Metode manuskrip atau membaca naskah ini biasanya dilakukan untuk menyampaikan pernyataan-pernyataan resmi seperti pidato kenegaraan, pidato sambutan peringatan hari besar nasional, penyampaian laporan keuangan, dan hal-hal serupa lainnya.
  5. Memoriter
  6. Metode memoriter adalah metode pidato dengan hafalan. Setelah naskah ditulis, dihafal lalu disampaikan. Pidato dengan metode ini banyak dilakukan oleh peserta lomba pidato dimana mereka tidak boleh membawa naskah. Kekuatan hafalan merupakan kekuatan pidato dengan metode ini. Pemberi pidato harus konsentrasi dan fokus. Jika tidak, pidatonya bisa gagal karena lupa pada bagian-bagian tertentu atau terjadi pengulangan.
  7. Ekstempore
  8. Pidato dengan metode ini dicirikan dengan adanya adanya konsep berupa poinpoin utama yang akan disampaikan (out line). Pidato dengan metode ekstempore dianggap sebagai metode yang paling baik bagi mereka yang sudah terlatih berpidato, karena tidak terlalu monoton seperti pidato manuskrip. Dengan adanya konsep yang berisi out line, dilengkapi dengan struktur dan ide utama (main ideas) serta jika perlu dibuat supporting ideas). Out line pidato menjadi pedoman dalam menyampaikan pidato. Sesekali melihat konsep lalu mengembangkan isi pidato dengan pengetahuan dan analisis sendiri.


BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

        Pidato adalah seni penyampaian percakapan yang didukung dengan penggunaan bahasa yang baik dan benar. Demikian juga yang disampaikan oleh Suhandang (2009) menyatakan, retorika merupakan seni dan kepandaian berbicara dan berkata-kata atau berpidato dengan menggunakan segala teknik dan taktik berkomunikasi. Berdasarkan pengertian para pakar diatas dipahami bahwa berpidato adalah suatu seni berkomunikasi di hadapan orang banyak dengang menggunakan teknik dan taktik serta bahasa yang baik dan benar. Pidato juga dapat disebut dengan public speaking. Pidato akan baik, jika disampaikan dan dituliskan menggunkana struktur yang sistematis sesuai dengan ketentuan. Kesistematisan itu merupakan salah satu bentuk keindahan dari pidato sehingga memunculkan makna yang mudah dimengerti. Oleh karena itu sebelum menyampaikan atau menulis naskah pidato terlebih dahulu mengetahui tujuan dari pidato tersebut.


DAFTAR PUSTAKA

Rakhmat, Jalaluddin. 2010. Retorika Modern Pendekatan Praktis. Bandung: Rosda Karya.
Suhandang, Kustadi. 2009. Retorika: Strategi, Teknik dan Taktik Berpidato. Bandung: Nuansa.
Somad, adi abdul dan Indriani. 2010. Belajar dan Mengenal Teknik Berpidato. Jakarta: Trans mandiri abadi.
Supriyatmoko, Irawan . 2010. Mastering Public Speaking: Teknis Praktis Berbicara di depan Umum. Yogyakarta: Universitas Atmajaya.