Manusia Sebagai Audiens - Makalah Retorika

Manusia Sebagai Audiens - Makalah Retorika
Manusia Sebagai Audiens - Makalah Retorika

Manusia Sebagai Audiens - Makalah Retorika. Makalah di bawah bisa kalian jadikan sebagai referensi dalam pembuatan makalah dan tugas kuliah mata kuliah Retorika. Makalah terdiri dari pendahuluan ( latar belakang ) , pembahasan dan penutup serta daftar pustaka. 


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

        Komunikasi memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Manusia tidak dapat hidup sendiri sehingga membutuhkan interaksi dengan pihak lain. Jembatan interaksi tersebut dilakukan melalui komunikasi. Pada saat berkomunikasi, pihak yang menyampaikan pesan berusaha menyampaikan pesan sedemikian rupa sehingga pesan yang disampaikan dapat dipahami oleh penerima pesan yang kemudian menghasilkan umpan balik atas pesan yang disampaikan tersebut. Nampaknya sederhana proses komunikasi tersebut berlangsung. Namun, dalam kenyataannya tidaklah demikian. 

        Ketika Anda berbicara di depan umum, Anda dan pendengar (audience) Anda sedang terlibat dalam komunikasi. Ini berarti Anda sedang membangun suatu hubungan dengan beberapa orang, dimana Anda dapat mengerti satu sama lain dan mengakui adanya kepentingan bersama. 

        Teori komunikasi pada awalnya mempunyai pandangan bahwa berbicara di depan umum merupakan suatu rangkaian pesan satu arah yang dikirim kepada pendengar. Tetapi, kenyataan sesungguhnya, bagaimanapun para pendengar berpartisipasi dengan pembicara dalam menciptakan saling pengertian dan pemahaman (in creating shared meaning and understanding). Ide dan nilai yang disampaikan oleh pembicara dicerna dan disalurkan melalui interaksi dengan pendengar. Dalam hal itu, pengetahuan dan pengertian pendengar dipadukan melalui interaksi dengan pembicara. Pembicaraan di depan umum adalah suatu proses komunikasi yang berkesinambungan, dimana pesan dan lambang bersirkulasi ulang secara terus-menerus antara pembicara dan para pendengar. 

B. Rumusan Masalah
  1. Apa yang dimaksud manusia sebagai pendengar atau audiens?
  2. Apa saja karakteristik manusia sebagai pendengar atau audiens?
  3. Bagaimana konsep manusia sebagai pendengar atau audiens?
  4. Apa saja tipe-tipe manusia sebagai pendengar atau audiens?


BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Manusia sebagai Pendengar atau Audiens

        Kegiatan mendengarkan tidak jarang dipahami secara samar, bahkan tidak jarang dianggap sebagai kegiatan pasif dalam proses komunikasi. Menurut Devito (2013), kegiatan mendengarkan dapat diartikan sebagai suatu proses aktif dari menerima rangsangan (stimulus) pada telinga (aural).  Dalam penginderaan, proses mendengarkan artinya memperhatikan kata-kata dari isi pesan yang ingin disampaikan dan juga sekaligus menerima tanda-tanda nonverbal seperti bahasa tubuh, ekspresi wajah, dan semacamnya.
  
        Secara harfiah, audiens disebut juga dengan khalayak. Kata audiens berasal dari bahasa Yunani, yaitu audire yang berarti “mendengar”. Audiens dapat diartikan sebagai pendengar, pembaca, atau penerima. Dalam kajian retorika atau public speaking, kata audiens lebih dikenal dengan khalayak. Kajian teoritis mengenai khalayak merupakan kajian yang dipelajari lebih awal dari teori-teori komunikasi. Teori khalayak sendiri adalah teori yang mencoba untuk menjelaskan bagaimana seorang khalayak dalam mendengar, menerima, dan menanggapi sebuah teks. Karena kecenderungan khalayak yang selalu berkembang, tidak statis tapi juga tidak selamanya dinamis. Maka akan lebih mudah melakukan pendekatan apabila kita memahami karakteristik dari khalayak tersebut. 

B. Karakteristik Manusia sebagai Pendengar atau Audiens

        Retorika merupakan kegiatan pasti yang berhubungan dengan beberapa orang dan tidak mungkin jika dilakukan oleh satu orang saja, karena jika hal itu terjadi maka tujuan dari retorika tidak dapat tercapai. Pada kenyataannya kegiatan retorika ini akan berhubungan dengan banyak khalayak, maka dari itu seorang komunikator harus siap menghadapi perbedaan dari setiap lawan bicara. Menurut Heibert (Nurudin, 2007:105-106) audiens dalam komunikasi masa memiliki lima karakteristik, yaitu :
  1. Khalayak cenderung berisi individu-individu yang memiliki ketertarikan untuk berbagi pengalaman dan dipengaruhi bagaimana hubungan sosial antara mereka. 
  2. Khalayak cenderung besar, yakni khalayak tersebar dalam berbagai jangkauan sasaran media massa. Namun, ukuran besar tersebut menjadi relatif karena disetiap media pasti memiliki jumlah khalayak yang berbeda, dan itu masih bisa disebut dengan khalayak atau audiens tanpa mengurangi makna. 
  3. Khalayak cenderung heterogen, yakni khalayak berasal dari berbagai lapisan masyarakat dan berbagai kategori sosial. 
  4. Khalayak cenderung anonim, yaitu antara individunya tidak saling mengenal. Hal ini berarti bahwa pada sebuah kelompok komunikasi khalayak tidak dapat mengenal antar individu secara keseluruhan karena jangkauan yang besar. 
  5. Khalayak secara fisik dipisahkan dengan komunikator, misal ketika kita tengah mengikuti acara pengajian dengan penceramah berada di mimbar. Maka itu adalah sebuah pemisahan jarak agar komunikasi dapat lebih fokus dengan komunikator.
C. Konsep Manusia sebagai Pendengar atau Audiens

        Denis McQuil (1987:203-205) menyebutkan ada beberapa konsep alternatif audiens diantaranya :
  1. Khalayak sebagai kumpulan pendengar, pembaca, dan penonton 
  2. Pada konsep ini dapat diartikan sebagai kecenderugan khalayak yang keberadaannya tersebar, heterogen dan berjumlah banyak. Pendekatan yang dapat digunakan dalam konsep ini yaitu pendekatan sosial dan budaya.
  3. Khalayak sebagai kelompok sosial dan politik
  4. Dalam konsep ini mengartikan bahwa khalayak sebagai sekumpulan orang yang muncul atau terbentuk karena sebuah isu, minat ketertarikan yang sama. Khalayak dalam konsep ini akan aktif mencari informasi dan cenderung lebih aktif dalam menanggapinya dengan mendiskusikannya bersama individu lain. Pendekatan yang digunakan yaitu pendekatan sosial politik.
  5. Khalayak sebagai pasar 
  6. Dalam hal ini mengartikan khalayak sebagai konsumen media, yaitu pendengar atau pemirsa suatu iklan tertentu. Pendekatan yang dapat digunakan dalam hal ini adalah pendekatan sosial dan ekonomi.
D. Tipe-Tipe Manusia sebagai Pendengar atau Audiens

        Dalam public speaking, mengetahui tipe-tipe audiens juga menjadi salah satu hal yang penting. Dengan begitu, seorang pembicara akan mengerti bagaimana ia harus menyampaikan pesannya kepada audiens, sehingga audiens dapat memahami dan menerapkan apa yang pembicara sampaikan. Berikut ini adalah tipe-tipe audiens dalam public speaking :
  1. Sheep (si Anak Manis)
  2. Tipe audiens sheep disebut si anak manis karena audiens hanya fokus mendengar ucapan pembicara, sibuk mencatat, dan berharap bisa memahami pembahasan. Ketika diskusi, tipe audiens sheep sering kali lebih suka mendiskusikan materi yang ada. Lalu dalam sesi tanya jawab, mereka sulit untuk menemukan pertanyaan dan kegiatan kreatif seperti audiens yang lain. Mereka hanya berbicara jika setuju dan mengajukan pertanyaan untuk klarifikasi.
  3. Hotshot (si Pembelajar)
  4. Tipe audiens hotshot merupakan audiens yang memiliki kepercayaan diri dan kenyamanan dalam mengikuti seminar. Mereka fokus dalam mendengarkan untuk mendapatkan apa yang mereka cari dalam seminar. Ketika diskusi, tipe audiens hotshot mudah berpartisipasi dan bersahabat dengan pembicara. Kemudian cara belajar mereka cepat dan banyak mengajukan pertanyaan yang menantang untuk mengetahui lebih dalam lagi serta memperjelas materi.
  5. Clown (si Penghibur)
  6. Tipe audiens clown sangat menyukai interaksi sosial. Audiens tipe clown memiliki perilaku yang cerewet, mudah dimotivasi, sering menjadi pemimpin kelompok, menyukai diskusi dan tugas-tugas yang membutuhkan interaksi. Saat sesi tanya jawab, mereka bertanya dan mengajukan komentar hanya untuk menghibur dan bukan mendukung pembicara.
  7. Sniper (si Pengkritik)
  8. Tipe seperti ini menunjukkan kesan pertama yang sinis terhadap pemateri dan topiknya. Mereka mendengarkan ucapan pembicara dan menaruh perhatian, tetapi hal itu semata dilakukan hanya untuk mencari kesempatan yang tepat guna menyampaikan kritik atau sekadar menunjukkan kepintaran mereka. Saat diskusi dalam menganalisis sesuatu secara kritis, audiens tipe sniper mendapat perhatian lebih dari audiens lain.
  9. Snowman (si Mr. and Mrs. Cool)
  10. Audiens dengan tipe snowman memiliki penyakit dalam bersosialisasi dengan tidak berbicara dan tidak merespons selama pemateri berinteraksi dengan peserta. Penyakit itu muncul dari rasa takut berbicara di depan banyak orang atau kurang percaya diri dengan pengetahuan yang dimiliki. Dalam sesi tanya jawab pun mereka memutuskan untuk tetap diam, karena berkeyakinan bahwa orangorang akan menganggap mereka buruk ketika mereka mengajukan pertanyaan.
  11. Black Cloud (si Negative Thinking)
  12. Black cloud merupakan audiens yang bahasa tubuhnya negatif, seperti mengerutkan kening, tatapannya tidak fokus, dan melipat tangan. Mereka menampakkan beberapa hal yang mengartikan bahwa mereka bosan dengan pembahasan dari pemateri, serta apa yang dibahas tidak relevan dan rumit untuk dilakukan. Di sisi lain, ada kemungkinan kalau mereka sudah pernah mendengar pembahasan yang disampaikan pemateri, sehingga mereka begitu cepat menyimpulkan tidak menyukai pembahasannya.
  13. Unwanted Panelist (si Ahli yang Tersasar)
  14. Unwanted panelist adalah “ahli” yang hadir diruangan tanpa diundang. Tipe seperti ini memiliki tingkat percaya diri yang tinggi tetapi kurang dihargai atau dihormati. Untuk mendapatkan hal tersebut, mereka sering kali mencoba menambahkan pengetahuan atau pembahasan dengan mengajari audiens lain dari pengalaman mereka. Selain itu, mereka juga sering kali menjadi orang pertama yang menjawab pertanyan pemateri dengan jawaban yang sangat panjang. Bagi audiens lain, tipe unwanted panelist ini sangat mengesalkan, ambisius, dan mengganggu. 


BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

        Komunikasi menjadi kegiatan yang tidak terpisahkan dari aktivitas manusia sehari-hari. Ketika manusia berkomunikasi, tentunya ada seseorang atau sekelompok orang yang menjadi pendengar. Proses mendengarkan diartikan sebagai proses dalam memperhatikan kata-kata dari isi pesan yang ingin disampaikan sekaligus menerima tanda-tanda nonverbal, seperti bahasa tubuh, ekspresi wajah, dan semacamnya.

        Kemudian dalam kajian retorika atau public speaking, sekumpulan orang yang menerima pesan disebut audiens atau khalayak. Audiens dapat diartikan sebagai pendengar, pembaca, atau penerima. Dalam hal ini, teori khalayak penting untuk dipelajari karena menjelaskan bagaimana seorang khalayak dalam mendengar, menerima, dan menanggapi sebuah teks. 
  
       Karakteristik manusia sebagai audiens menurut Heibert (Nurudin, 2007:105106) diantaranya khalayak cenderung heterogen, anonim, dan dipisahkan secara fisik. Kemudian konsep manusia sebagai audiens menurut Denis McQuil (1987:203-205) meliputi khalayak sebagai kumpulan pendengar, pembaca dan penonton, khalayak sebagai kelompok sosial dan politik, serta khalayak sebagai pasar. Lalu manusia
sebagai audiens memiliki 7 tipe yaitu sheep (si anak manis), hotshot (si pembelajar), clown (si penghibur), sniper (si pengritik), snowman (si Mr. and Mrs. Cool), black cloud (si negative thinking), dan unwanted panelist (si ahli yang tersasar).


DAFTAR PUSTAKA

Hojanto, Ongky. 2013. Public Speaking Mastery. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Kurniawan, Afrizal. 2016. “Karakteristik dan Respon Audiens Penonton Tayangan Sinetron  Tukang Bubur Naik Haji The Series”. Fakultas Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Lampung. 
Martoredjo, Nikodemus Thomas. 2014. “Keterampilan Mendengarkan secara Aktif dalam  Komunikasi Interpersonal”. Jurnal Humaniora. hlm.501-509. 
Nasrullah, Ruli. 2018. “Riset Khalayak Digital:  Perspektif Khalayak Media dan Realitas  Virtual di Media Sosial”. Jurnal Sosioteknologi. hlm.271