Makalah Ontology, Epistimologi Dan Aksiologi Ilmu Dakwah

Makalah Ontology, Epistimologi Dan Aksiologi Ilmu Dakwah
Makalah Ontology, Epistimologi Dan Aksiologi Ilmu Dakwah

Makalah Ontology, Epistimologi Dan Aksiologi Ilmu Dakwah. Makalah di bawah bisa kalian jadikan sebagai referensi dalam pembuatan makalah dan tugas kuliah mata kuliah Ilmu Dakwah. Makalah terdiri dari pendahuluan ( latar belakang ), pembahasan dan penutup serta daftar pustaka. 


BAB I
PENDAHULUAN

      Secara ontologi, makna dakwah pada mulanya dipahami sebagai perintah Allah yang tertuang dalam al-Qur’an. Bagi setiap Muslim yang taat kepada Allah, maka perintah berdakwah itu wajib dilaksanakan. Ketika dakwah dilaksanakan dengan baik, lalu disadari bahwa dakwah merupakan suatu kebutuhan hidup manusia. Ketika dakwah disadari sebagai suatu kebutuhan hidup, maka dakwah menjadi suatu aktivitas setiap muslim kapan pun dan di manapun mereka berada. Kemudian, aktivitas dakwah pun berkembang dalam berbagai situasi dan kondisi dengan berbagai dinamikanya. 

        Sekarang ini dakwah juga memiliki perspektif keilmuan Islam dengan pendekatan pada filsafat, sehingga secara aksiologi ilmu dakwah lebih dinamis dan bergerak sesuai dengan situasi perkembangan zaman. Masalah utama yang harus ditata untuk bangunan sebuah ilmu adalah mengenai hal yang berkaitan dengan dengan epistemologi ilmu yang bersangkutan. Karena epistemologi merupakan dasar pijakan, tak terkecuali dalam bangunan ilmu dakwah. Dalam hal ini, tampaknya belum banyak tulisan atau forum diskusi dan seminar yang secara khusus membahas epistemologi dakwah. 

        Dalam al-Qur’an dan Hadits serta sunnah-sunnah Rasulullah bisa kita dapati sentuhan-sentuhan teoritis yang merupakan benih keilmuan dakwah. Aksiologi ini salah satunya bertujuan ingin memberikan dukungan terhadap proses kemajuan ilmu dakwah di antara ilmuilmu lainnya. Memang tidak mudah untuk menentukan kriteria/ ukuran suatu ilmu itu bermanfaat atau tidak. Namun demikian, tulisan ini mencoba memberikan kriteria kebermanfaatan itu secara sederhana dalam perspektif ilmu dakwah.


BAB II
PEMBAHASAN

A. Ontologi Ilmu Dakwah

        Kata ontology berasal dari Bahasa Yunani, yaitu : on/ontos yang berarti “ada”, dan logos yang artinya “ilmu”. Jadi ontology ialah ilmu tentang yang ada. Ontology adalah teori dari cabang filsafat yang membahas tentang realitas. Realitas ialah kenyataan yang selanjutnya menjurus pada suatu kebenaran. Bedanya realitas dalam ontology ini melahirkan pertanyaan-pertanyaan. Menurut Jujun S. Suriasumantri, ontology membahas apa yang kita ketahui, seberapa jauh kita ingin tahu, atau dengan perkataan lain, suatu pengkajian mengenai teori tentang “ada”.
        
      Dakwah berasal dari Bahasa arab “Da’a – Yad’u – Da’wan” yang artinya adalah menyeru, mengajak. Secara istilah dakwah bisa diartikan sebagai mengajak manusia untuk mengerjakan kebaikan dan mengikuti petunjuk, menyuruh mereka berbuat baik dan melarang mereka dari perbuatan jelek, agar mereka mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
        
        Dari pengertian diatas dapat kita Tarik kesimpulan bahwa ontology dalam filsafat dakwah islam adalah pemahaman atau pengkajian tentang wujud hakikat dakwah islam dari dari segi hakikat dakwah islam itu sendiri dalam mengkaji problem ontologis dakwah yang juga menjadi perhatian filsafat dakwah. Landasan ontologis suatu pengetahuan mengacu kepada apa yang digarap dalam penela’ahnya, yakni apa yang hendak diketahui melalui kegiatan penela’ahan itu. Aspek ontology dalam ilmu dakwah berkaitan denga napa yang menjadi objek kajian pada ilmu tersebut. Obyek kajian ilmu dakwah terbagi dua bagian, yaitu obyek material dan obyek formal.
         
         Amrullah Achmad berpendapat, obyek material ilmu dakwah adalah semua aspek ajaran Islam (Al-Qur’an dan As-Sunnah), hasil ijtihad serta realisasinya dalam system pengetahuan, teknologi, social, hukum, ekonomi, Pendidikan dan lainya, khususnya kelembagaan islam. Sedangkan obyek formalnya yaitu kegiatan mengajak umat manusia supaya Kembali kepada fitrahnya sebagai muslim dalam seluruh aspek kehidupanya. Bidang kajian ilmu dakwah bersifat empiric, dalam hal ini harus dibedakan dari kajian ilmu agama yang membahas hal-hal yang tidak empiric dalam pengertian tidak dapat dijangkau dengan pengalaman. Jika ilmu agama mengkaji halhal seperti ketuhanan, hari kiamat dan yang sejenisnya, maka ilmu dakwah mengkaji hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan manusia, social, kehidupan keagamaan, pemikiran, budaya, estetika dan filsafat dimana kesemua hal diatas dapat diverivikas/diuji langsung.

        Dalam ontology dakwah terdapat tiga hal mendasar yang harus dilihat secara cermat dalam kajian tersebut yaitu: 
  1. Manusia (sebagai pelaku dan penerima dakwah)
  2. Pertanyaan tentang siapakah manusia itu telah muncul sejak manusia berada dimuka bumi, dan jawabanya disusun sesuai dengan perkembangan pola pikir dan pengetahuan manusia itu sendiri. Jawaban dari pertanyaan tersebut dapat dijabarkan dalam berbagai disiplin ilmu social, ekonomi dan lain-lain, yang setidaknya memuat jawaban bahwa manusai itu terdiri dari dua unsur yaitu, pertama jasad material yang tidak ada bedanya dengan binatang. Sedangkan unsur yang kedua adalah jiwa yang bersifat ruhaniyah, yang memungkinkan manusia untuk berfikir dan berkembang secara dinamis. Inilah yang membedakan antara manusia dan binatang.
  3. Dakwah dan hidayah
  4. Hidayah merupakan penjelasan dan petunjuk jalan yang akan menyampaikan kepada tujuan, sehingga meraih kemenangan di sisi Allah. Dalam hal ini hidayah Tuhan yang berupa ajaran islam akan sampai kepada manusia itu melalui proses, maka dalam proses inilah dakwah berperan sentral. Sehingga bisa dikatakan bahwa posisi dakwah dalam hal ini adalah upaya atau proses untuk mengajak dan merayu manusia agar Kembali atau tetap berada dan meningkatkan fitrahnya, yakni dalam ketuhanan, social dan etika yang sesuai dengan ajaran islam sehingga dapat terwujud kehidupan manusia yang khoiru ummah.
B. Epistimologi Ilmu Dakwah

        Istilah epistimologi berasal dari Bahasa Yunani, yaitu episteme yang diartikan sebagai pengetahuan atau kebenaran, dan logos yang berarti pikiran, kata atau teori. Dengan demikian secara etimologis, epistemologi dapat diartikan sebagai “teori pengetahuan”. Epistemologi adalah cabang filsafat yang membicarakan mengenai hakikat ilmu. Yakni menyelidiki keaslian pengetahuan, struktur, metode dam validitas pengetahuan.

        Teori korespondensi menyatakan bahwa kebenaran atau keadaan benar itu merupakan kesesuaian antara arti yang dimaksud oleh suatu pendapat denga napa yang sungguh-sungguh merupakan halnya atau fakta-faktanya. Kebenaran adalah sesuatu yang bersesuaian dengan fakta, yang selaras dengan realitas, yang sesuai dengan situasi aktual. Dari teori korespondensi dapat diketahui bahwa yang pertama ada pernyataan dan kedua ada kenyataan.

    Dalam pembahasan filsafat, epistemology dikenal sebagai sub-sistem dari filsafat, disamping ontology dan aksiologi. Pada setiap jenis pengetahuan filsafat mempunyai ciri-ciri yang spesifik mengenai apa, bagaimana dan untuk siapa pengetahuan tersebut digali dan dikembangkan. Jika membicarakan epistemology ilmu, maka seharusnya dikaitkan dengan ontology dan aksiologi, sebab ketiga-tiganya memiliki fungsi sendiri-sendiri yang berurutan dalam mekanisme pemikiran. Dengan demikian, ketiga-tiganya adalah bersifat interelasi dan interdependensi. Ketika dalam kajian ini dibicarakan epistemology, berarti dibatasi kajianya tentang upaya, cara atau Langkah-langkah yang seharusnya ditempuh untuk mendapat ilmu dakwah, termasuk bidang-bidang ilmu yang tercakup di dalamnya.

C. Aksiologi Ilmu Dakwah

        Aksiologi adalah istilah yang berasal dari kata Yunani yaitu: axios yang berarti sesuai atau wajar. Sedangkan logos yang berarti ilmu. Aksiologi dipahami sebagai teori nilai. Aksiologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakikat nilai dari sudut pandang filsafat. Kedudukan dakwah sebagai ilmu, dapat ditemukan pada argument yang dapat menjawab sejauh mana dakwah memiliki kriteria sebagai ilmu. kriteria tersebut mencakup: Pertama, sejauh mana dakwah memiliki argumen atas struktur yang jelas dari ilmu yang menyampaikan dan mengajak orang untuk mengakui kebenaran teologis tertentu. Kedua, menyangkut kejelasan Ilmu dakwah yang dapat dipertanggungjawabkan secara sistematik. Ketiga, menyangkut pertanggungjawaban metodologis dakwah sebagai Ilmu. Keempat, sejauh mana dakwah sebagai ilmu dapat mempertanggungjawabkan produk-produknya berangkat dari proses logika yang jelas keterkaitan antara premis dan kesimpulannya.

        Berdasarkan uraian tersebut dapat ditegaskan, bahwa yang menjadi landasan aksiologi ilmu dakwah adalah nilai-nilai kebenaran teologis yang bersumber dari Al-Qur’an dan as-Sunnah yang harus diimplementasikan dalam realitas kehidupan sosial, sehingga nilai-nilai tersebut menjelma sebagi ‘’rahmatan li al-alamin’’.

        Katsoff (1987) menjelaskan bahwa hakikat nilai itu ada beberapa kemungkinan:
  1. Nilai adalah kualitas empiris yang tidak dapat didefinisikan
  2. Nilai sebagai objek suatu kepentingan
  3. Nilai pragmatis (inilah hasil pemberian nilai)
  4. Nilai sebagai esensi.
        Tujuan dasar ilmu dakwah, dengan merujuk pada beberapa ayat Al- Qur’an yang relevan, adalah untuk:
  1. Menjelaskan realitas dakwah sebagai suatu kebenaran. “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa al-Quran itu benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?” (QS 41:53)
  2. Mendekatkan diri kepada Allah sebagai kebenaran. “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahku” (QS.51:56) 
Dalam dimensi aksiologis dakwah ada tiga hal yang harus dicermati dan ketiganya akan mengandung konsekuensi yang berbeda.
  1. Perlu dijernihkan terlebih dahulu pemahaman dakwah sebagai ilmu pengetahuan atau sebagai objek kajian atau bahkan sebuah ativitas konkrit.
  2. Kesadaran akan pluralitas sebagai keniscayaan, yang meliputi:
  3. a. Perbedaan kebudayaan antara wilayah tertentu dengan yang lain, kurun waktu tertentu dan  kurun waktu yang lain. Kondisi sosial-ekonomi tertentu dan kondisi yang lain. Histories  tertentu dan historis yang lain.
    b. Adanya realitas bahwa diluar Islam ada komunitas lain seperti ahli kitab, orang musyrik dan orang kafir. Yang dapat dilindungi (Dzimmi) atau diperangi tergantung kondisi yang ada. Dakwah sebagai panggilan, ajakan dan komunikasi harus merupakan dialog bukan monolog. Keterbukaan mejadi syarat mutlak, kesediaan untuk selalu diuji dan beradu argumen adalah syarat aksiologis yang harus ada dalam setiap upaya menyampaikan nilai kebenaran.


BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

    Kata ontology ialah ilmu tentang yang ada. Ontology adalah teori dari cabang filsafat yang membahas tentang realitas. Realitas ialah kenyataan yang selanjutnya menjurus pada suatu kebenaran. Bedanya realitas dalam ontology ini melahirkan pertanyaan-pertanyaan. Menurut Jujun S. Suriasumantri, ontology membahas apa yang kita ketahui, seberapa jauh kita ingin tahu, atau dengan perkataan lain, suatu pengkajian mengenai teori tentang “ada”. ontology dalam filsafat dakwah islam adalah pemahaman atau pengkajian tentang wujud hakikat dakwah islam dari dari segi hakikat dakwah islam itu sendiri dalam mengkaji problem ontologis dakwah yang juga menjadi perhatian filsafat dakwah. Landasan ontologis suatu pengetahuan mengacu kepada apa yang digarap dalam penela’ahnya, yakni apa yang hendak diketahui melalui kegiatan penela’ahan itu. 

       Epistemologi adalah cabang filsafat yang membicarakan mengenai hakikat ilmu. Yakni menyelidiki keaslian pengetahuan, struktur, metode dam validitas pengetahuan. Sedangkan Aksiologi dipahamisebagai teori nilai, Aksiologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakikat nilai dari sudut pandang filsafat. Kedudukan dakwah sebagai ilmu, dapat ditemukan pada argument yang dapat menjawab sejauh mana dakwah memiliki kriteria sebagai ilmu. Katsoff (1987) menjelaskan bahwa hakikat nilai itu ada beberapa kemungkinan Nilai adalah kualitas empiris yang tidak dapat didefinisikan, Nilai sebagai objek suatu kepentingan, Nilai pragmatis (inilah hasil pemberian nilai) dan Nilai sebagai esensi.


DAFTAR PUSTAKA

Suisyanto. Pengantar Filsafat Dakwah. Yogyakarta, 2006.
Bagus. Loren. Ilmu Filsafat. PT Gramedia Pustaka Utama. 2005.
Rubiyanah, Ade Masturi. Pengantar Ilmu Dakwah. Jakarta. 
        Lemlit UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 2010.