Sejarah, Pemikiran Akidah dan Politik Islam Syiah - Akidah Ilmu Kalam

Sejarah, Pemikiran Akidah dan Politik Islam Syiah - Akidah Ilmu Kalam
Sejarah, Pemikiran Akidah dan Politik Islam Syiah - Akidah Ilmu Kalam

Sejarah, Pemikiran Akidah dan Politik Islam Syiah - Akidah Ilmu Kalam. Makalah di bawah bisa kalian jadikan sebagai referensi dalam pembuatan makalah dan tugas kuliah mata kuliah Akidah Ilmu Kalam. Makalah terdiri dari pendahuluan ( latar belakang ) , pembahasan dan penutup serta daftar pustaka. 


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

        Dalam beragama, seseorang ataupun suatu kelompok sering dihadapkan pada pilihan yang amat perlu dikaji secara matang. Masalah tersebut dapat muncul dari berbagai bidang, di antaranya keyakinan aliran, persaingan politik, dan lain sebagainya. Menurut Ibn Khaldun, sebagaimana dikutip A.Hanafi, Ilmu Kalam ialah ilmu yang berisi alasan-alasan yang mempertahankan kepercayaan kepercayaan iman dengan menggunakan dalil-dalil pikiran dan berisi bantahan terhadap orang-orang yang menyeleweng dari kepercayaan-kepercayaan aliran golongan salaf dan Ahli Sunnah (Abuddin Nata, 2009, hal. 268).

        Aliran Syi’ah adalah salah satu kelompok dalam sejarah pemikiran Islam merupakan sebuah aliran yang muncul dikarenakan gejolak politik dan seterusnya berkembang menjadi aliran teologi dalam Islam.Syi’ah dikenal sebagai sebuah aliran teologi dalam Islam, yaitu ketika mereka mencoba mengkaitkan iman dan kafir dengan Imam, atau dengan kata lain ketaatan pada seorang Imam merupakan tolak ukur beriman tidaknya seseorang, di samping paham mereka bahwa Imam merupakan wakil Tuhan serta mempunyai sifat ketuhanan.

        Sebagai  salah  satu aliran  politik,  bibitnya  sudah  ada  sejak  timbulnya  persoalan  siapa  yang  berhak  menjadi  khalifah setelah wafatnya Rasulullah.  Dalam  persoalan  ini  Syi’ah  berpendapat  bahwa  yang  berhak  menjadi khalifah  setelah  Rasulullah meninggal dunia  adalah  keluarga  sedarah  yang  dekat  dengan  Nabi,  yaitu  Ali bin  Abi  Thalib  dan  harus  dilanjutkan  oleh  anaknya,  Hasan  dan  Husen,  serta  keturunan-keturunannya.

       Mengenai  kemunculan  syiah  dalam  sejarah  terdapat  perbedaan  pendapat dikalangan  para  ahli. Ada  yang  mengatakan  syiah  muncul  pada  masa  khalifah  Utsman  bin Affan,  ada  juga  yang  mengatakan  syiah  muncul  ketika  peperangan  siffin  terjadi  yang  kemudian terpecah  menjadi  dua  kelompok  salah  satunya  adalah  yang  mendukung.

B. Rumusan Masalah
  1. Apa yang dimaksud dengan Syi’ah?
  2. Bagaimana sejarah latar belakang kemunculan syi’ah?
  3. Apa saja pemikiran akidah-akidah yang dianut syi’ah?
  4. Bagaimana keadaan politik Syi’ah?


BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Syi’ah

        Syiah secara etimologi berarti pengikut, pecinta, pembela, yang ditujukan kepada ide, individu atau kelompok tertentu. Syiah dalam arti kata lain dapat disandingkan juga dengan kata tasyaiyu’ yang berarti patuh/menaati secara agama dan mengangkat kepada orang yang ditaati itu dengan penuh keikhlasan tanpa keraguan. Syiah dalam Bahasa Arab : شيعة dan Bahasa Persia: شيعه ialah salah satu aliran atau mazhab dalam Islam. Syiah menolak kepemimpinan dari tiga Khalifah Sunni pertama seperti juga Sunni menolak Imam dari Imam Syiah. Bentuk tunggal dari Syiah adalah Syi'i (Bahasa Arab: شيعي (menunjuk kepada pengikut dari Ahlul Bait dan Imam Ali.

     Dalam defenisi lain Syiah adalah bentuk pendek dari kalimat bersejarah Syi`ah `Ali artinya "pengikut Ali", yang berkenaan tentang Q.S. Al-Bayyinah ayat khoirulbariyyah, saat turunnya ayat itu Nabi SAW bersabda: "Wahai Ali, kamu dan pengikutmu adalah orang-orang yang beruntung" (ya Ali anta wa syi'atuka humul faaizun).
    
        Adapun Syiah secara terminologi memiliki banyak pengertian. Belum ada pengertian yang mampu mewakili seluruh pengertian Syiah. Kesulitan ini terjadi karena banyaknya sekte-sekte dalam paham keagamaan Syiah. Dalam Ensiklopedi Islam, Syiah yaitu kelompok aliran atau paham yang mengidolakan Ali bin Abi Thalib. Dan keturunannya, yakni imam-imam atau para pemimpin agama dan umat setelah Nabi Muhammad Saw. Akan tetapi, pengertian ini dibantah oleh kelompok di luar Syiah karena dipandang tidak dapat mewakili fakta yang sebenarnya. KH Sirojudin Abbas menilai bahwa tidak semata-mata kelompok Syiah saja yang mencintai (mengidolakan) Ali bin Abi Thalib tetapi kelompok Ahlu Sunnah juga mencintai Ali, dan bahkan seluruh umat muslim juga mencintai Ali dan keturunannya.

Muhammad Husain Thabathaba’i dalam bukunya Syiah Islam memberikan pengertian bahwa Syiah adalah salah satu aliran dalam Islam yang berkeyakinan bahwa yang paling berhak menjadi imam umat Islam sepeninggal Nabi Muhammad saw ialah keluarga Nabi saw sendiri yakni Ahlulbait. Dalam hal ini, ‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib (paman Nabi saw) dan ‘Ali bin Abi Thalib (saudara sepupu sekaligus menantu Nabi saw) beserta keturunannya.

Menurut Syahrastani syiah adalah kelompok masyarakat yang menjadi pendukung Ali bin Abi Thalib. Mereka berpendapat bahwa Ali bin Abi Thalib adalah imam dan khalifah yang ditetapkan melalui nash dan wasiat rasulullah baik secara terang-terangan maupun implisit. Artinya bahwa imamah harus dari jalur Ali dan jika terjadi dalam sejarah imam bukan dari keturunan Ali hal itu merupakan kedzaliman dan taqiyah dari pihak keturunan Ali. Sehingga imamah menurut syiah bukan hanya sebatas maslahat agama tetapi aqidah yang menjadi tiangnya agama”.

B. Sejarah latar belakang kemuculan Syi’ah

      Dalam sejarah terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ahli. Menurut Abu Zahrah, Syi’ah mulai muncul ke permukaan sejarah pada masa akhir pemerintahan Utsman bin Affan. Selanjutnya, aliran ini tumbuh dan berkembang pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib. Sedangkan Watt menyatakan bahwa syi’ah muncul ketika berlangsung peperangan antara Ali dan Muawiyah yang dikenal dengan perang shiffin. Dalam peperangan ini sebagai respons atas penerimaan Ali terhadap arbitrase yang ditawarkan Muawiyah, pasukan Ali diceritakan terpecah menjadi dua, satu kelompok mendukung sikap Ali disebut Syi’ah dan kelompok lain menolak sikap Ali disebut Khawarij.

    Berbeda dengan pandangan di atas, kalangan Syi’ah berpendapat bahwa kemunculan Syi’ah berkaitan dengan masalah pengganti (khilafah) Nabi Muhammad SAW. Mereka menolak kekhalifahan Abu Bakar Umar bin Khaththab dan Utsman bin ‘Affan karena dalam pandangan mereka hanya Ali bin Abi Thalib yang berhak menggantikan Nabi. Ketokohan Ali dalam pandangan Syi’ah sejalan dengan isyarat-isyarat yang diberikan oleh Nabi Muhammad SAW pada masa hidupnya. Pada awal kenabian ketika Muhammad diperintahkan menyampaikan dakwah kepada kerabatnya, yang pertama-tama menerima adalah Ali bin Abi Thalib. Pada saat itu Nabi mengatakan bahwa orang yang pertama-tama memenuhi ajakannya akan menjadi penerus dan pewarisnya. Selain itu sepanjang kenabian Muhammad, Ali merupakan orang yang menunjukkan perjuangan dan pengabdian yang luar biasa besar.

      Bukti sah Ali sebagai penerus Nabi adalah peristiwa Ghadir Khumm. Diceritakan bahwa ketika kembali dari haji terakhir dalam perjalanan dari Mekah ke Madinah, di padang pasir yang bernama Ghadir Khumm, Nabi memilih Ali sebagai penggantinya di hadapan massa yang penuh sesak menyertai beliau. Pada peristiwa itu, Nabi tidak hanya menetapkan Ali sebagai pemimpin umum umat (walyat-i ammali), tetapi juga menjadikan Ali sebagaimana Nabi, sebagai pelindung (wali) mereka.

    Berlawanan dengan harapan mereka, ketika Nabi wafat dan jasadnya masih terbaring belum dikuburkan, anggota keluarganya dan orang sahabat sibuk dengan persiapan penguburan dan pemakamannya. Teman-teman dan pengikut - pengikut Ali mendengar kabar adanya kegiatan kelompok lain telah pergi ke masjid tempat umat berkumpul menghadapi hilangnya pemimpin yang tiba – tiba. Kelompok ini kemudian menjadi mayoritas, bertindak lebih jauh dan dengan sangat tergesa-gesa memilih kaum muslim dengan maksud menjaga kesejahteraan umat dan memecahkan masalah mereka saat itu. Mereka melakukan hal itu tanpa berunding dengan ahl al–bait. Keluarganya ataupun sahabat–sahabatnya yang sedang sibuk dengan upacara pemakaman, dan sedikit pun tidak memberitahukan mereka. Dengan demikian, kawan-kawan Ali dihadapkan  pada suatu keadaan yang sudah tidak dapat berubah lagi.

        Berdasarkan realitas itulah, demikian pandangan kaum syiah kemudian muncul sikap dikalangan sebagian kaum muslim yang menentang kekhalifahan dan menolak kaum mayoritas dalam masalah kepercayaan – kepercayaan tertentu. Mereka tetap berpendapat bahwa pengganti Nabi dan penguasa keagamaan yang sah adalah Ali. Mereka berkeyakinan bahwa semua persoalan kerohanian dan agama harus merujuk kepadanya serta mengajak masyarakat untuk mengikutinya, Inilah yang kemudian disebut sebagai Syi’ah. Akan tetapi, lebih dari itu seperti dikatakan Nasr, sebab utama munculnya Syi’ah terletak pada kenyataan bahwa kemungkinan ini ada dalam wahyu Islam sehingga harus diwujudkan.

        Perbedaan pendapat di kalangan para ahli mengenal kalangan Syi’ah merupakan sesuatu yang wajar. Para ahli berpegang teguh pada fakta sejarah “perpecahan” dalam Islam yang mulai mencolok pada masa pemerintahan Utsman bin Affan dan memperoleh momentumnya yang paling kuat pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib, tepatnya setelah Perang Shiffin. Adapun kaum Syi’ah, berdasarkan hadis-hadis yang mereka terima dan ahl al-bait, berpendapat bahwa perpecahan itu mulal ketika Nabi Muhammad SAW wafat dan kekhalifahan jatuh ke tangan Abu Bakar. Setelah itu, terbentuklah Syi’ah. Bagi mereka, pada masa kepemimpinan Al-Khulafa Ar-Rasyidin, kelompok Syi’ah sudah ada. Mereka bergerak ke permukaan mengajarkan dan menyebarkan doktrin-doktrin Syi’ah kepada masyarakat. Tampaknya, Syi’ah sebagai salah satu faksi politik Islam yang bergerak secara terang-terangan, muncul pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib. Akan tetapi, Syi’ah sebagai doktrin yang diajarkan secara diam - diam oleh ahl al-bait muncul setelah wafatnya Nabi.

C. Pemikiran akidah-akidah yang dianut Syi’ah

      Banyak perbedaan, bahkan persamaan, antara kelompok ahlussunnah dan kelompok Syiah Imamiyah Istna Asyariyah, persamaan dan perbedaan-perbedaan tersebut tidak mungkin dapat dirinci dan dikemukakan semuanya. Namun perlu dikemukakan perbedaan yang berkaitan dengan Rukun Iman dan Islam, karena jika dapat ditemukan titik temu, maka paling tidak kita telah berhasil menghindari kafir-mengkafirkan, bahkan (mungkin) bunuh-membunuh, yang selama ini terdengar, bahkan kini marak sekali terjadi di Irak. 

        Menurut Syaikh Muhammad Husain al-Kasyif al-Ghitha, seorang ulama besar Syiah (1874-1933 H), dalam bukunya Ashl asy-Syiah wa Ushuliha, agama pada dasarnya adalah keyakinan dan amal perbuatan yang berkisar pada :
  1. Pengetahuan atau keyakinan tentang Tuhan
  2. Pengetahuan atau keyakinan tentang yang menyampaikan dari Tuhan
  3. Pengetahuan tentang peribadatan dan tata cara pengamalannya 
  4. Melaksanakan kebajikan dan menampik keburukan (Budi Pekerti), dan
  5. Kepercayaan tentang hari kiamat dengan segala kerinciannya
        Selanjutnya dikatakannya bahwa Islam dan Iman adalah sinonim, yang secara umum bertumpu pada tiga rukun yaitu Tauhid (Keesaan Tuhan), Kenabian dan Hari Kemudian (Hari Kiamat). Jika seseorang mengingkari salah satu dari ketiganya, maka dia bukanlah seorang mukmin, bukan juga seorang muslim, tetapi apabila ia percaya tentang keesaan Allah, kenabian, para penghulu para Nabi, yakni Nabi Muhammad saw, serta percaya tentang hari pembalasan (kiamat), maka ia adalah seorang muslim yang benar. Dia memiliki hak sebagaimana hak-hak muslim lainnya dan kewajiban sebagaimana kewajiban muslim-muslim yang lain. Darah, harta dan kehormatannya haram diganggu. Kedua kata itu juga (Iman dan Islam) memiliki pengertian khusus, yaitu ketiga rukun tersebut ditambah dengan rukun keempat yang terdiri tonggak-tonggak, yang atas dasarnya Islam dibina, yaitu shalat, puasa, zakat, haji dan jihad. Menurut kalangan Syiah, agama adalah keyakinan dan amal perbuatan yang menyangkut keyakinan adalah :
  1. Tauhid
  2. Tauhid pada prinsipnya adalah keesaan Tuhan dalam sifat, perbuatan, dan zat-Nya, serta kewajiban mengesahkan dalam beribadah kepada-Nya. Dalam konteks tentang uraian tentang Tauhid (keesaan Allah) dapat ditambahkan bahwa salah satu hal yang berkaitan dengannya adalah apa yang diistilahkan dengan al-Adl, Allah Maha Adil, tidak sedikit pun menyentuh kezaliman.  Keadilan ilahi mutlak dipercayai oleh setiap Muslim, apa pun kelompok dan alirannya. Namun, dalam pengertiannya terdapat perbedaan antara Ahlussunnah dan Syiah. Aliran mu’tazilah dan Syiah menegaskan bahwa keadilan-Nya yang mutlak itu menjadikan setiap muslim harus percaya bahwa Allah wajib melakukan Ash-Ashalah dan al-ashlah (yang baik dan yang terbaik) sehingga ia pasti memberikan ganjaran siapa yang taat, dan ia menjatuhkan hukuman bagi yang berdosa. Ini berbeda dengan pandangan Asy’ariyah dari Ahlussunnah yang menyatakan tidak ada halangan, bahkan bisa saja bagi Allah dari segi pandangan nalar/teoritis menyiksa yang taat dan memberi ganjaran bagi yang berdosa. Perbedaan itu agaknya karena satu pihak dalam hal lni Mu’tazilah dan Syiah menekankan sisi keadilan Ilahi, sedangkan pihak kedua Ahlussunnah menekankan sisi kuasa-Nya yang mutlak. Dari aspek keyakinan ini juga lahir perbedaan lainnya, yaitu Ahlussunnah menyatakan bahwa baik dan buruk ditentukan oleh syariat, bukannya akal. Sedangkan Syiah cenderung sependapat dengan mu’tazilah dalam hal bahwa akal yang menetapkan baik dan buruknya sesuatu, atau paling tidak mereka tidak berkata “ini baik karena diperintakan Allah” tetapi “ini diperintakan Allah karena baik.”
  3. Kenabian
  4. Kelompok Syiah berkeyakinan bahwa seluruh Nabi yang disebut dalam Al-Qur’an adalah utusan-utusan Allah swt. Dan bahwa Nabi Muhammad saw. adalah Nabi terakhir, dan penghulu seluruh nabi. Beliau terpelihara dari kesalahan dan dosa. Allah telah memperjalankan beliau di waktu malam dari Masjid al-Haram ke masjid al-aqsha, kemudian dinaikkan ke sidratul muntaha. Kitab Al-Qur’an diturukan oleh Allah kepada beliau sebagi mukjizat dan tantangan serta pengajaran hukum yang membedakan antara halal dan haram, yang tiada kekurangan juga penambahan atau perubahan di dalamnya dan barangsiapa yang mengaku mendapat wahyu atau diturunkan kitab kepadanya setelah kenabian Muhammmad Saw, maka itu kafir yang harus dibunuh.
  5. Hari Kemudian (Kiamat)
  6. Pada dasarnya tidak ada perbedaan prinsipil antara keyakinan Syiah Ahlussunnah dalam hal keyakinan tentang Hari kemudian. Syaikh Husain Kasyif al-Ghitha menguraikan keyakinan Itsna Asyarityah sebagai berikut: “imamiyah berkeyakinan sebagaimana diyakini oleh seluruh kaum Muslim bahwa Allah swt, akan mengembalikan hidup atau mengembalikan semua mahluk dan menghidupkan mereka setelah kematian pada hari kematian pada hari kiamat untuk melakukan perhitungan dan balasan. Yang dibangkitkan itu adalah sosok yang bersangkutan masing-masing dengan jasad dan ruhnya, sehingga bila dilihat oleh orang lain dia akan berkata: “Inilah si Anu.” Anda tidak wajib mengetahui bagaimana terjadinya kebangkitan itu, apakah ia merupakan pengembalian yang telah tiada atau nampaknya yang maujud atau selain dari itu. Syiah Imamiyah juga percaya dengan semua apa yang tercantum dalam Al-Qur’an dan sunnah yang nilainya Quth’iy (pasti) seperti surge, neraka, kenikmatan di barzah dan siksanya, timbangan amal, shirath (jembatan), al-Araf, kitab amalan manusia, yang tidak membiarkan yang kecil atau yang besar kecuali dicatatnya, dan bahwa semua manusia akan mendapat ganjaran atau balasan. Kalau amalannya baik dan kalau buruk maka buruk”. Dari penjelasan diatas sangat jelas bahwa dalam tiga point penting Tauhid, Kenabian dan Hari Kemudian (kiamat) tidak ada perbedaan yang signifikan, artinya simpul Aqidah antara Sunni dan Syi’ah sama, yang berbeda adalah pada rincian dan pemahaman di masing-masing kelompok. Secara jujur dapat dijelaskan perbedaan antara kelompok Syiah dan Ahlussunnah yang sangat menonjol adalah yang berkaitan dengan masalah Imamah. Bahkan dapat dikatakan, sebagaimana tulis Muhammad Husain Kasyif Al-Ghitha dan disetujui pula oleh syeikh al-Azhar, Abdul Halim Mahmud, bahwa ciri khas yang membedakan antara Ahlussunnah dan Syiah adalah Imamah.

D. Keadaan Politik Syi’ah

       Kemunculan syiah dari segi politik bermula selepas wafatnya nabi Muhammad saw, dan puncaknya adalah setelah pembunuhan Utsman bin ‘Affan. Pada masa kekhalifahan Abu Bakar, Umar, masa-masa awal kekhalifahan Utsman yaitu pada masa tahun-tahun awal jabatannya, Umat Islam bersatu, tidak ada perselisihan yang tajam. Kemudian pada akhir kekhalifahan Utsman terjadilah berbagai peristiwa yang mengakibatkan timbulnya perpecahan, muncullah kelompok pembuat fitnah dan kezhaliman, mereka membunuh Utsman, sehingga setelah itu umat Islam pun berpecah-belah.

        Peristiwa pembunuhan Usman menimbulkan munculnya perseteruan antara Mua’wiyah dan Ali, di mana pihak Mu’awiyah menuduh pihak Ali sebagai otak pembunuhan Usman. Ali diangkat menjadi khalifah keempat oleh masyarakat Islam di Madinah. Pertikaian keduanya juga berlanjut dalam memperebutkan posisi kepemimpinan umat Islam setelah Mu’awiyah menolak diturunkan dari jabatannya sebagai gubernur Syria. Konflik Ali-Muawiyah adalah starting point dari konflik politik besar yang membagi-bagi umat ke dalam kelompok-kelompok aliran pemikiran.

       Krisis politik sejak pengangkatan Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah dan disusul kemudian dengan penolakan Muawiyah bin Abu Sufyan terhadap eksistensi kekhalifahan imam Ali, dengan sendirinya telah membangkitkan ketegangan politik yang dari kedua belah pihak yang bertikai sehingga berujung terjadinya perang Siffin. Perang Siffin inilah merupakan puncak krisis politik umat Islam. Dalam sejarah dikatakan sebagai fitnah besar “al-fitnah al-kubra”. Dari fitnah ini juga di kemudian hari terus menerus berkembang dan membesar dalam melukiskan proses dan perjalanan panjang sejarah politik umat Islam dari generasi ke generasi antara Sunni dan Syiah.

      Dalam sejarah, sikap Ali yang menerima tawaran arbitrase (perundingan) dari Mu’awiyah dalam perang Siffin tidak disetujui oleh sebagian pengikutnya yang pada akhirnya menarik dukungannya dan berbalik memusuhi Ali. Kelompok ini kemudian disebut dengan Khawarij (orang-orang yang keluar). Dengan semboyan La Hukma Illa lillah (tidak ada hukum selain hukum Allah) mereka menganggap keputusan tidak bisa diperoleh melalui arbitrase melainkan dari Allah. Mereka melabelkan orang-orang yang terlibat arbitrase sebagai kafir karena telah melakukan “dosa besar” sehingga layak dibunuh.

   Doktrin imamah ini dalam perkembangannya dijadikan oleh syiah sebagai keyakinan atau kepercayaan yang agung, sehingga dapat memberi kesan dan pengaruh besar dalam sistem pemerintahan dan kepimpinan, dan kajian-kajian aqidah dan teologi Islam, fiqih dan ushul fiqih, mu’amalah, tafsir dan hadis. Sehingga hampir semua ayat-ayat Alquran dan Hadis Rasulullah saw yang berkaitan dengan kepimpinan, perwalian, penghakiman dan sebgainya, mereka masukkan nilai-nilai imamah ke dalamnya dan ditafsirkan sebagai konsep Imamah.

        Hal ini menandakan bahwa persoalan teologis dalam Islam berawal dari masalah politik, sehingga memberikan pengaruh dan kesan besar terhadap perpecahan umat Islam, bahkan dapat mempengaruhi tatanan kehidupan sosial masyarakat. Dan terkadang masyarakat itu sendiri ikut langsung terlibat di dalam ranah politik, sehingga berbagai kalangan dan tingkatan sosial di masyarakat bersaing untuk menjadikan pilihan politiknya berkuasa. Dengan demikian, permasalahan awal antara Sunni dan Syiah sebenarnya bersumber pada sejarah masa lalu yang sangat bersifat politis, bukan dari segi teologi Islam.

        Saat ini kelanjutan dari konsep imamah dikenal dengan “Wilayah al-Faqih” adalah konsep terbaru dari golongan Syiah Imamiyah di Iran, sebagai alternatif dari Imam al-Gha’ibah, akibat serangan-serangan yang dilancarkan kepada mereka. Sebab salah satu ajaran asas dalam Syiah adalah mengakui adanya Imam pada setiap masa, yang tugasnya memecahkan segala persoalan umat. Namun karena imam tersebut tidak muncul juga, maka dimunculkanlah sistem “wilayah al-Faqih”. 

        Berkaitan dengan teori Wilayah al-Faqih ini, sebenarnya syiah Imamiyah sendiri berbeda pendapat tentang kewujudannya. Dalam artian sebagian ulama syiah tidak mengakui keabsahan teori tersebut, seperti shekh Murtaza al-Ansori dan syekh al-Sayyid al-Khuu’i, kedua ulama syiah ini terkenal menantang dan mengingkari Wilayah al-Faqih, justeru mereka sangat loyal menunggu kehadiran imam ghaib. Oleh kerana itu ada hal yang menarik dicermati bahwa sebenarnya penubuhan konsep tersebut secara tidak langsung merupakan bentuk kritikan terhadap konsep Imam al-Mahdi al-Muntazar yang tak muncul-muncul sampai saat ini. Sebab peranan Imam Ma’sum yang ghaib ini tidaklah mudah dan sangat esensial, iaitu: menegakkan hudud dan memungut zakat. Bahkan yang sangat bermasalah lagi kalau sebagian penganut pahaman syiah Imamiyah merasa tidak wajib melaksanakan shalat jumat karena ketidakhadiran imam al-Ghaib al-Muntazar. Jadi hal inilah yang dikhawatirkan oleh Imam Khumaini sehingga membela mati-matian konsep “wilayah al-Faqih” dalam berbagai buku karyanya, dan khususnya “al-Hukumah al-Islamiyah”.


BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

        Syiah secara etimologi berarti pengikut, pecinta, pembela, yang ditujukan kepada ide, individu atau kelompok tertentu. Syiah dalam arti kata lain dapat disandingkan juga dengan kata tasyaiyu’ yang berarti patuh/menaati secara agama dan mengangkat kepada orang yang ditaati itu dengan penuh keikhlasan tanpa keraguan. Syiah dalam Bahasa Arab : شيعة dan Bahasa Persia: شيعه ialah salah satu aliran atau mazhab dalam Islam. Syiah menolak kepemimpinan dari tiga Khalifah Sunni pertama seperti juga Sunni menolak Imam dari Imam Syiah. Bentuk tunggal dari Syiah adalah Syi'i (Bahasa Arab: شيعي (menunjuk kepada pengikut dari Ahlul Bait dan Imam Ali.

      Banyak perbedaan, bahkan persamaan, antara kelompok ahlussunnah dan kelompok Syiah Imamiyah Istna Asyariyah, persamaan dan perbedaan-perbedaan tersebut tidak mungkin dapat dirinci dan dikemukakan semuanya. Namun perlu dikemukakan perbedaan yang berkaitan dengan Rukun Iman dan Islam, karena jika dapat ditemukan titik temu, maka paling tidak kita telah berhasil menghindari kafir-mengkafirkan, bahkan (mungkin) bunuh-membunuh, yang selama ini terdengar, bahkan kini marak sekali terjadi di Irak.  Menurut kalangan Syiah, agama adalah keyakinan dan amal perbuatan yang menyangkut keyakinan adalah tauhid, Kenabian dan Hari Kemudian (Kiamat).

       Kemunculan syiah dari segi politik bermula selepas wafatnya nabi Muhammad saw, dan puncaknya adalah setelah pembunuhan Utsman bin ‘Affan. Pada masa kekhalifahan Abu Bakar, Umar, masa-masa awal kekhalifahan Utsman yaitu pada masa tahun-tahun awal jabatannya, Umat Islam bersatu, tidak ada perselisihan yang tajam. Kemudian pada akhir kekhalifahan Utsman terjadilah berbagai peristiwa yang mengakibatkan timbulnya perpecahan, muncullah kelompok pembuat fitnah dan kezhaliman, mereka membunuh Utsman, sehingga setelah itu umat Islam pun berpecah-belah.


DAFTAR PUSTAKA

M. Quraish Shihab. Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah: Kajian Atas Konsep Ajaran Dan Pemikiran. (Tangerang: Lentera Hati. 2007), H.11
Abdul Mun’eim Al-Nemr, Sejarah Dan Dokumen-Dokumen Syi’ah (T.Tp.: Yayasan Alumni Timur Tengah, 1988), Hlm. 34-35.
Zakaria, Abu Muhyiddin, Tahdzibul Lughah, (Darul Kutub Al-’Ilmiyah”, Beirut – Libanon), Hlm.61
Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam Jilid 5 (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1997), Cet. Ke-4, Hlm. 5.
Abbas, Sirojuddin. I’itiqad Ahlussunnad Wal-Jama’ah. (Jakarta: Pustaka Tarbiyah. 1992), Hlm.93
Thabathaba’i. Islam Syiah: Asal-Usul Dan Perkembangannya. Diterjemahkan Dari Syi’ite Islam. Penerjemah: Djohan Effendi. ( Jakarta: Pustaka Utama Grafiti. 1989). Hlm.32.
Asy-Syahrastani, Almilal wa Anihal, terj. Aswadie Syukur(Surabaya:Bina Ilmu. )Hlm.125
Abdul Rozak dan Rosihon Anwar,  op. cit., hlm. 113.
Sakni, Ahmad Soleh. "SUNNI DAN SYI’AH DALAM HARMONI (Pemikiran M. Quraish Shihab dalam Upaya Rekonsiliasi Ummat)." Jurnal Ilmu Agama: Mengkaji Doktrin, Pemikiran, dan Fenomena Agama 19.2 (2018): 196-210.