Makalah Sejarah Perkembangan Retorika pada Zaman Yunani Kuno & Romawi Kuno

Makalah Sejarah Perkembangan Retorika pada Zaman Yunani Kuno & Romawi Kuno
Makalah Sejarah Perkembangan Retorika pada Zaman Yunani Kuno & Romawi Kuno

Makalah Sejarah Perkembangan Retorika pada Zaman Yunani Kuno & Romawi Kuno. Makalah di bawah bisa kalian jadikan sebagai referensi dalam pembuatan makalah dan tugas kuliah mata kuliah Retorika. Makalah terdiri dari pendahuluan ( latar belakang ) , pembahasan dan penutup serta daftar pustaka. 


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Retorika berasal dari bahasa Inggris “rhetoric” dan bersumber dari perkataan Latin “rhetorica” yang berarti ilmu bicara. Retorika sebagai suatu ilmu memiliki sifat-sifat rasional, empiris, umum dan akumulatif (Harsoyo dalam Susanto, 1988:73-74). Rasional, apa yang disampaikan oleh seorang pembicara harus tersusun secara sistematis dan logis. Empiris berarti menyajikan fakta-fakta yang dapat diverifikasi oleh pancaindra. Umum artinya kebenaran yang disampaikan tidak bersifat rahasia dan tidak dirahasiakan karena memiliki nilai sosial. Akumulatif merupakan perkembangan dari ilmu yang sudah ada sebelumnya, yaitu penggunaan bahasa secara lisan maupun tulisan.

Retorika secara sistematis dan metodologis telah dipelajari, diteliti, dan dipraktekkan oleh Sokrates dan penerusnya. Ada juga yang memberi pengertian retorika sebagai seni penggunaan bahasa yang efektif. Yang lain mengatakan retorika sebagai public speaking atau berbicara di depan umum. Pengertian retorika secara sempit adalah hanya mengenai bicara, sedang secara luas tentang penggunaan bahasa lisan dan tulisan. Menurut Sunarjo (1983:49-52) pengertian retorika dapat dilihat dari tinjauan filosofis dan tinjauan ilmu komunikasi.

Sedangkan secara filosofis, retorika dapat dirunut dari nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Filsuf Aristoteles mempertegas bahwa emosi manusia bervariasi dan ini dapat dipergunakan oleh seorang orator atau pembicara untuk mempengaruhi audiensnya. Aristoteles memberikan pengertian bahwa retorika sebagai seni yang memiliki nilai-nilai tertentu. Nilai itu adalah kebenaran dan keadilan yang mempunyai kekuasaan dan kekuatan dalam masyarakat. Bagi Aristoteles, retorika memiliki beberapa fungsi, yaitu pengetahuan yang mendalam tentang retorika dan latihan-latihan yang dilakukan bisa mencegah retorika digunakan sebagai alat penipuan. Retorika sangat berguna sebagai sarana untuk menyampaikan instruksi. Retorika sama halnya dengan dialektik yang dapat memaksa orang untuk berpikir dan mengajukan pertanyaan.


BAB II
PEMBAHASAN

A. Sejarah Perkembangan Retorika Pada Zaman Yunani Kuno

    Para ahli komunikasi berpendapat bahwa retorika sudah ada sejak manusia ada. Tetapi retorika sebagai seni komunikasi mulai di pelajari pada abad ke-5 SM, ketika kaum Sofis di Yunani mengembara dari tempat satu ke tempat yang lain untuk mengajarkan pengetahuan mengenai politik dan pemerintahan dengan penekanan pada kemampuan berpidato. 

      Sejak abad ke 7 sampai ke 5 sebelum Masehi ilmu retorika telah dikenal di Yunani. Telah banyak ahli - ahli pidato saat itu. Pada mulanya para ahli pidato di Yunani hanya berbicara dalam ruang persidangan. Tetapi setelah memperhatikan bahwa kepandaian berbicara berguna untuk memimpin negara, maka orang mulai menyusunnya dan disebut retorika, sehingga mudah dipelajari. Usaha ini dijalankan pertama - tama di daerah koloni Yunani di Sisilia dimana kebebasan berbicara mulai djunjung tinggi. Usaha yang sama juga dikembangkan di kota Athena dan di seluruh kerajaan Yunani. Sejak abad ke 5 mulai didirikan sekolah - sekolah retorika di wilayah - wilayah yang berkebudayaan helenistis. Retorika menjadi salah satu bidang ilmu yang diajarkan kepada generasi muda yang dipersiapkan untuk memimpin negara. 

      Retorika pada abad ini menjadi salah satu bidang ilmu yang menyaingi filsafat. Beberapa ahli pidato muncul saat itu diantaranya Gorgias (485 - 380), Protagoras (480 - 410) dan Thrasymchus (300 - 200). Selain itu muncul juga ahli pidato lain yang terkenal seperti Socrates. Tokoh aliran Sofisme sekaligus sebagi guru Retorika yang pertama adalah Georgia (480-370). Georgias menyatakan bahwa kebenaran suatu pendapat hanya dapat di buktikan jika tercapai kemenangan dalam pembicaraan. Pendapat Georgias ini berlawanan dengan pendapat Protagoras (500-432) dan Sokrates (469-392). Protagoras mengatakan bahwa kemahiran berbicara bukan demi kemenangan melainkan demi keindahan bahasa. Sedangkan Sokrates, retorika adalah demi kebenaran dengan dialog sebagai tekhniknya karena dengan dialog kebenaran akan timbul dengan sendirinya.

        Beberapa diantara para sofis (filsuf petualang) yang dikenal pertama kali mengembangkan retorika ialah Empedocles (444 SM). Dia telah menampilkan teori tentang pengetahuan manusia yang menjadi dasar bagi pengembangan retorika masa depan. Ide-ide lisan Empedocles kemudian ditulis kembali oleh muridnya Tisias di bawah judul Corax, tulisan ini berisi strategi dan argumentasi hukum di depan pengadilan kota. Beberapa nama lain yang patut dikenang pula ialah Protagoras (481-420 SM), Gorgias (483-376 SM), dan Isokrates (436-338 SM). Khusus bagi Isocrates, pendapatnya bahwa public speaking merupakan cara manusia membarui diri dengan titik berat pada talenta alamiah sembari meniru model-model retorika yang baik. Isocrates dikenal sebagai orang yang berjasa dalam mengembangkan retorika karena dia mendirikan sekolah-sekolah formal di Athena yang kemudia diikuti oleh pendirian Akademik Plato dan Lisum Aristoteles. 

       Selain beberapa nama sofis diatas, maka kebanyakan orang tidak dapat melupakan Plato (427-347 SM). Plato adalah seorang murid Socrates yang mendirikan sekolah filsafat dan sekaligus menjadikan filsafat sebagai pengetahuan untuk membedakan hal yang benar dan yansalah dalam retorika. Menurut Plato retorika sangat penting sebagai metode pendidikan sebagai sarana untuk mencapai kedudukan dalam pemerintahan dan sebagai sarana untuk mempengaruhi rakyat. Plato mengatakan bahwa retorika bertujuan memberikan kemampuan menggunakan bahasa yang sempurna dan merupakan jalan bagi seseorang untuk memperoleh pengatahuan yang luas terutama dalam bidang politik. 

      Nama lain yang tetap dijunjung tradisi retorika ialah Aristoteles (384-322 SM) yang pada saat itu lebih dikenal sebagai ahli fisika, namun dia dikenal sangat mengusai filsafat karena menjadi murid Plato selama 20 tahun. Akibatnya, Aristoteles menjadikan filsafat sebagai dasar retorika. Menurut Aristoteles, dalam budaya Yunani kuno, kata-kata yang diucapkan merupakan bentuk komunikasi yang sangat dominan dan retorika merupakan ilmu yang mempelajari hal ini.

B. Sejarah Perkembangan Retorika Pada Zaman Romawi Kuno

      Setelah kerajaan Romawi menguasai Yunani terjadilah kontak antara kaum cendekiawan Romawi dan Yunani. Orang - orang Romawi mempelajari kebudayaan bangsa Yunani terutama ilmu kepandaian berbicara. Ilmu retorika mulai diberikan di sekolah - sekolah. Apabila ada murid yang berbakat berpidato, setelah mereka dibekali pengetahuan teoretis tentang retorika, mereka disuruh mengunjungi tempat - tempat pengadilan, mereka menyaksikan pidato dibawakan di pengadilan dan di depan publik. Berdasarkan pengalaman praktis itu, para murid melengkapi petunjuk yang diberikan
gurunya disekolah. 

       Di romawi yang mengembangkan retorika adalah Marcus Tulius Cicero (106-43 SM) yang menjadi termasyhur karena suaranya dan bukunya yang berjudul antara lain de Oratore. Sebagai seorang orator yang ulung, Cicero mempunyai suara yang berat mengalun, pada suatu saat keras menggema, diwaktu lain halus merayu, bahkan kadang-kadang pidatonya itu disertai cucuran air mata.Buku de oratore yang telah ditulisnya terdiri dari 3 jilid, jilid 1 menguraikan pelajarang yang diperlukan oleh seorang orator, jilid 2 menjelaskan hal pengaruh, dan jilid 3 menerangkan bentuk-bentuk pidatonya. Sebagai seorang tokoh Retorika, Cicero meningkatkan kecakapan retorika menjadi suatu ilmu. Berkenaan dengan sistematikanya dalam retorika, Cicero berpendapat bahwa retorika mempunyai dua tujuan pokok yang bersifat suasio (anjuran) dan disuasio (penolakan). Paduan dari kedua sifat itu dijumpai terutama dalam pidato-pidato peradilan dimuka senat Roma.

      Pada saat itu tujuan pidato dimuka pengadilan adalah untuk menyadarkan publik tentang hal-hal yang menyangkut kepentingan rakyat, perundang undangan negara dan keputusan yang akan diambil. Hal ini menurut Cisero hanya dapat dicapai dengan menggunakan teknik dissuasio apabila terdapat kekeliruan atau pelanggaran dalam hubungannya dengan undang-undang atau suasio jika akan mengajak masyarakat untuk memenuhi undang-undang dan keadilan. 

     Buku de oratore yang telah ditulisnya terdiri dari 3 jilid, jilid 1 menguraikan pelajarang yang diperlukan oleh seorang orator, jilid 2 menjelaskan hal pengaruh, dan jilid 3 menerangkan bentuk-bentuk pidatonya. Sebagai seorang tokoh Retorika, Cicero meningkatkan kecakapan retorika menjadi suatu ilmu. Berkenaan dengan sistematikanya dalam retorika, Cicero berpendapat bahwa retorika mempunyai dua tujuan pokok yang bersifat : suasio (anjuran) dan disuasio (penolakan). Paduan dari kedua sifat itu dijumpai terutama dalam pidato-pidato peradilan dimuka senat Roma. Pada saat itu tujuan pidato dimuka pengadilan adalah untuk menyadarkan publik tentang hal-hal yang menyangkut kepentingan rakyat, perundang undangan negara dan keputusan yang akandiambil. Hal ini menurut Cisero hanya dapat dicapai dengan menggunakan teknik dissuasioapabila terdapat kekeliruan atau pelanggaran dalam hubungannya dengan undang-undangatau suasio jika akan mengajak masyarakat untuk memenuhi undang-undang dan keadilan.4 Cisero mengajarkan bahwa dalam mempengaruhi pendengar-pendengarnya, seorang retor harus meyakinkan mereka dengan mencerminkan keadilan dan kesusilaan.

     Dalam pelaksanaannya retorika meliputi; Investio berarti mencari bahan dan tema yang akan dibahas. Pada tahap ini bahan-bahan dan bukti bukti harus dibahas secara singkat dengan memperhatikan keharusan pembicara: mendidik, membangkitkan kepercayaan, menggerakan hati. Ordo collation berarti menyusun pidato yang meminta kecakapan sipembicara dalam memilih mana yang lebih penting, mana yang kurang penting. Penyusunan pidato juga meminta perhatian terhadap: exordium (pendahuluan), narratio (pemaparan), confirmatio (penguatan), reputatio (pertimbangan), peroratio (penutup). 

       Teknik yang digunakan Cicero biasa digunakan oleh orang-orang Yunani Kuno yaitu dialog dan drama. Cicero juga percaya bahwa efek pidato akan baik, jika orang yang berpidato orang yang baik juga. Pengalaman Cicero dalam bidang politik adalah ia pernah menjadi konsul dan mencegah perebutan kekuasaan yang dilakukan oleh Catilina. Pada tahun 60 SM, dia bertentangan dengan tiga serangkai yaitu Pompeyus, Caesar, dan rassus, yang menyebabkan dirinya dibuang.Ia akhirnya mendapat pengampunan dari Caesar. Sesudah Caesar meninggal, ia menentang Antonius. Karena tindakannya yang selalu menentang, ia akhirnya dibunuh. Pidato-pidatonya yang terpenting adalah; In Verrem yaitu pidato yang ditujukan kepada Verres yang melakukan pemerasan, In Catilinam yakni pidato yang ditujukan pada Catilina dengan maksud untuk menentangnya, Philippica yaitu pidato yang
diucapkan untuk menentang Antonius. 

        Kemudian ada Plutarch (46-120 SM). Dia adalah seorang tokoh sejarah Romawi yang berpendapat bahwa pidato yang disampaikan harus meyakinkan. Keadaan meyakinkan ini dapat dicapai dengan keyakinan pembicara, menguasai bahasanya, percaya akan diri sendiri,dan teknik bahasa yang digunakan merupakan peningkatan, aliterasi, mempunyai susunan kalimat yang baik.

        Lalu ada Tacitus (55-116 sesudah masehi). Dia adalah pahlawan Romawi yang menduduki Inggris hingga sebagian Scotlandia. Tacitus menyatakan bahwa retorika akan hilang nilainya dengan berkurangnya demokrasi. Hal ini ia lihat dari bertambah buruknya situasi politik Romawi dibawah konsul Domitianus. Di ruang pengadilan dan senat, pembicara-pembicara yang berlainan pendapat dengan pihak penguasa dibunuh sehingga kejujuran dan retorika berkurang, bahkan lenyap. Yang tersisa adalah bersilat lidah demi kemenangan atau semakin bertambahnya pidato-pidato yang mengandung pujian, tetapi tidak mencerminkan kebenaran lagi. 

       Tacitus memberi alternatif, ketika kemerdekaan berbicara dikuasai retorika palsu, maka lelucon dan syair menjadi tandingannya. Tacitus juga melukiskan kemungkinan bahaya retorika yang seperti itu adalah adanya pengaruh tanpa kecakapan atau pengetahuan, adanya pengaruh yang membenarkan yang salah. Perkembangan pemakaian jenis retorika tergantung zamannya, retorika kasar yang biasanya terdapat pada gerakan bawah tanah, retorika halus yang banyak terdapat di negara aman dan damai.


BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

       Dari makalah diatas dapat disimpulkan bahwa Retorika atau public speaking menjadi sesuatu yang penting untuk dipelajari. Sejarah membuktikan bahwa kemampuan berbicara bisa dipergunakan untuk berbagai keperluan politis, sosial, maupun psikologis. Perkembangan retorika diawali dari pengembaraan kaum sofis Yunani sebagai ilmu berbicara yang dapat dipelajari dengan penekanan pada seni berbicara. Public speaking menekankan pada efektivitas pesan yang dapat diterima audiens.
        
      Retorika berasal dari bahasa Inggris “rhetoric” dan bersumber dari perkataan Latin “rhetorica” yang berarti ilmu bicara. Retorika diartikan sebagai seni berpidato atau mengarang/membuat naskah dengan baik. Retorika juga diartikan sebagai kesenian untuk berbicara baik, yang dicapai berdasarkan bakat alam (talenta) dan keterampilan teknis (arts, techne).

       Menurut para ahli komunikasi retorika sudah ada sejak manusia ada tetapi retorika mulai di pelajari pada abad ke-5 SM, ketika kaum Sofis mengembara dari satu tempat ke tempat lain untuk mengajarkan pengetahuan mengenai politik dan pemerintahan dengan penekanan pada kemampuan berbicara. Pada Zaman romawi retorika dikembangkan oleh Marcuss Tulius Cicero pada tahun 106-43 SM karena suara dan bukunya yang berjudul de Oratore, Sebagai seorang orator yang ulung Cicero mempunyai suara berat, mengalun pada suatu saat keras menggema, dan lain lain.


DAFTAR PUSTAKA

Alo Liliweri, “Komunikasi Serba Ada Serba Makna”, Jakarta : Prenada Media Group, 2011.
Effendi, Onong Uchjana, “Dinamika Komunikasi”, Bandung : Remaja Karya, 1986.
Sulanjari, Yuni, “Retorika (Seni Bicara untuk Semua)”, Yogyakarta : Siasat Pustaka, 2010.
Dharmawan, Yohana Purnama, “Publik Speaking”, Tangerang : Universitas Terbuka, 2014.